Gerbang Dikunci Saat Aksi, Rolly Wenas: DPRD Harusnya Tunjukkan Keberanian Moral
Manado — visualharian.com Suasana di depan kantor DPRD Provinsi Sulawesi Utara memanas saat Koalisi LSM Anti Korupsi Sulut menggelar aksi unjuk rasa dalam rangka memperingati Hari Anti Korupsi, Selasa (9/12/2025). Aksi yang awalnya berlangsung tertib berubah tegang setelah massa tertahan di depan gerbang utama gedung dewan.
Ketua INAKOR Sulut, Sukyt Rolly Wenas, yang memimpin orasi, menyoroti tindakan pengamanan yang menutup akses masuk ke kompleks DPRD. Ia menyebut langkah tersebut sebagai sikap yang bertentangan dengan nilai-nilai transparansi yang seharusnya dijunjung tinggi oleh lembaga legislatif.
Dalam orasinya, Rolly menyampaikan keprihatinan bahwa pada hari yang seharusnya menjadi momentum global memerangi korupsi, para wakil rakyat justru menunjukkan sikap tertutup. Baginya, penolakan untuk membuka ruang dialog adalah ironi besar yang tak bisa dibiarkan begitu saja.
“Ketika seluruh dunia menyerukan perlawanan terhadap korupsi, di sini justru rakyat dibatasi untuk menyampaikan suara,” seru Rolly di hadapan massa. Ia menilai DPRD Sulut seakan menganggap kritik sebagai ancaman yang harus dihindari, bukan sebagai masukan yang memperkuat sistem demokrasi.
Menurutnya, pagar yang dikunci dan akses yang diblokade tidak hanya menunjukkan ketidaksiapan DPRD menerima aspirasi, tetapi juga menggambarkan ketidakpercayaan terhadap rakyatnya sendiri. “Kritik adalah vitamin demokrasi, bukan momok menakutkan,” tegasnya.
Rolly melanjutkan bahwa massa datang dengan tujuan mulia untuk menjalankan hak konstitusional, yakni menyampaikan pendapat di muka umum secara damai. Namun kenyataan di lapangan menunjukkan sebaliknya, di mana upaya mereka terhambat oleh pintu yang ditutup rapat.
“Seolah-olah rakyat ini musuh yang harus dijauhkan,” tambahnya lantang, memantik sorakan dukungan dari peserta aksi. Ia mendesak DPRD Sulut membuka diri dan berdiri di garis terdepan memperjuangkan pemberantasan korupsi.
Tidak lama setelah kritik keras itu dilontarkan, beberapa legislator keluar menemui massa dan mengajak dialog. Kehadiran mereka disambut positif oleh para demonstran yang sejak awal hanya menginginkan ruang komunikasi.
Dialog pun digelar di depan gerbang DPRD Sulut. Para anggota dewan yang hadir mencoba mendengarkan poin-poin tuntutan masyarakat. Situasi perlahan mencair meski sebelumnya sempat menegang akibat penutupan akses.
Di antara anggota DPRD yang turun langsung menemui massa adalah Louis Carl Schramm dari Fraksi Gerindra, Henry Walukow dari Fraksi Demokrat, Nick Lomban dari Fraksi NasDem, serta dua legislator PDI Perjuangan, Jeane Laluyan dan Rhesa Waworuntu. Mereka berjanji menindaklanjuti aspirasi yang disampaikan dalam aksi
Red

















